Anak Petani Jadi Anggota DPRD Batam

19

Batamekspres.id, Batam – Di usia balita, dia sudah ikut orang tuanya di suatu perkebunan di salah satu desa di Pasaman, Sumatera Barat. Wajah mungil itu akrab dengan lingkungan yang asri. 

Namun dia harus pisah dengan orang tuanya. Kala usianya memasuki taman kanak-kanak. Dia merantau dan tinggal dengan saudara orang tuanya. Untuk menempah ilmu di bangku sekolahan sekolah dasar. 

Singkatnya, dia pun tamat sekolah menengah atas (SMA) di Pulau Nias, Sumatera Utara. Remaja itu akhirnya balik kampung ke Pasaman.  Dan membantu orang tuanya di perkebunan. 

Pemuda itu adalah Utusan Sarumaha, Anggota Dewan Batam.  Kata Utusan, setelah beberapa bulan kerja di perkebunan karet, dia lalu merantau ke Batam. 

BACA JUGA:   Polsek Sagulung Sudah Layani Lebih 8.000 Peserta Vaksinasi

“Saya kala itu tinggal dengan Abang sepupu di Batam,” ucap Utusan membuka perbincangan di Forum Diskusi POSMETRO pada Selasa kemarin. 

Utusan mencoba kerja serabutan. Bahkan sempat menjadi kernet mobil Metro jurusan Jodoh- Dapur 12.  “Jadi kalau pagi sampai sore bantu Abang saya jadi kernet. Dan malam baru kuliah,” ucapnya menjelaskan kehidupannya di Batam. 

Di kampus, Utusan juga membantu teman-temannya untuk buat makalah dan sebagainya. “Uang bantuan teman-teman inilah yang sangat membantu memperoleh gelar sarjana,” tambahnya. 

Dalam sekian tahun Utusan memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Batam. Dia lantas melanjutkan cita-citanya sebagai seorang lawyer. 

BACA JUGA:   Belajar di Sekolah, Tunggu 1 Maret

Namun di tengah perjalanan dia dilirik salah satu partai. Dan diangkat menjadi ketua PAC (Perwakilan Anak Cabang) di Batu Aji. 

“Pada tahun 2009 itu saya sempat juga myaleg tapi hanya untuk memenuhi kuota partai saja,” timpalnya.  

Lima tahun kemudian, Ketua Pemuda Nias Kepri ini ditunjuk sebagai ketua tim sukses dari salah satu calon legislatif. 

“Dari sini saya mendapat banyak ilmu dan pengalaman untuk merebut hati masyarakat,” tegasnya. 

Menjelang Pemilu 2019, Utusan diajak gabung ke Partai Hanura Batam. Dia pun lalu menyalonkan diri sebagai caleg Batam dari dapil Sagulung. 

“Dengan modal pengalaman tadi dan pendekatan dengan kawan-kawan saya pun langsung berhasil lolos dan menjadi anggota dewan,” terangnya lagi. 

BACA JUGA:   Tahanan Catut Nama KPKNL untuk Nipu

Ia mengakui dana yang dikeluarkan untuk nyaleg ini cukup besar. Bisa lebih dari Rp500 juta. “Itu masih wajar. Soalnya kita kan harus bayar saksi jumlahnya ratusan orang. Belum tiap pertemuan untuk ngopinya,” paparnya. 

Kendati demikian dia masih mau menyalonkan kembali pada tahun 2024 nanti. “Intinya saya bisa memberikan manfaatnya kepada masyarakat Batam,” jelasnya. 

Menurut Utusan,  pendapatan dewan terlalu kecil bila dibandingkan pengacara. “Tapi itu tadi, di dewan ini saya ingin mengabdi untuk bisa bermanfaat bagi orang banyak,” tutupnya.(bar)